Agus Trihartono mengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember. Bidang yang ia geluti adalah Hubungan Internasional, bukan sekadar sebagai disiplin akademik, tetapi sebagai ruang untuk membaca dunia: bagaimana negara bekerja, bagaimana kekuasaan bergerak, dan bagaimana manusia sering kali berada di tengah pusaran keduanya.
Perjalanan akademiknya berangkat dari kampus yang sama tempat ia kini mengabdi. Ia menyelesaikan Sarjana Ilmu Sosial (S.Sos) dalam Hubungan Internasional di FISIP Universitas Jember. Dari sana, rasa ingin tahunya membawa perjalannya ke Jepang, ke Graduate School of International Relations (GSIR), Ritsumeikan University, Kyoto. Di lingkungan akademik yang ketat dan kosmopolitan itu, ia meraih Master (M.A.) dan kemudian Doktor (Ph.D.) dalam Hubungan Internasional. Tahun-tahun di Kyoto bukan hanya tentang menyelesaikan studi, tetapi tentang membangun fondasi berpikir, tentang disiplin metodologis, ketekunan membaca, dan keberanian mengajukan pertanyaan kritis yang kadang tidak selalu nyaman.
Ia tidak pernah berhenti belajar. Di sela-sela aktivitas akademiknya, Agus mengikuti berbagai program internasional: Australian Studies di Universitas Indonesia, Youth Invitation Programme – ASEAN Component dari JICA Tokyo, Japanese Studies dari JICA Osaka, hingga program Ethno-Nationalism in International Relations di Central European University (CEU), Budapest. Ia juga mengantongi sertifikat internasional sebagai peneliti kualitatif (CIQaR) dan kuantitatif (CIQnR). Bagi Agus, pelatihan akademik dan metodologi bukan sekadar perangkat teknis, melainkan cara menjaga integritas berpikir.
Di ruang kelas, ia terbiasa berbicara di depan mahasiswa S1 yang sedang membangun fondasi, berdiskusi tajam dengan mahasiswa S2 yang mulai menemukan sikap intelektualnya, dan membimbing riset doktoral di S3 yang menuntut presisi sekaligus keluasan perspektif. Ia menikmati dinamika itu, energi muda, perdebatan, hingga momen ketika seorang mahasiswa akhirnya menemukan argumennya sendiri. Pengalamannya mengajar juga membawanya ke beberapa kampus luar negeri: ia pernah berkontribusi di Ritsumeikan University dan Kobe University di Jepang, serta di Universiti Sultan Zainal Abidin (UNISZA), Malaysia. Di Universitas Jember, ia aktif sebagai promotor dan penguji doktoral, peran yang menuntut ketegasan, ketelitian, dan kematangan akademik.
Minat risetnya konsisten dan terarah: Soft Power dan Diplomasi, Human Security, Regionalisme Asia, serta Perbandingan Politik. Ia pernah terlibat sebagai peneliti di Ritsumeikan Global Innovation Research Organization (R-GIRO) dan Institute of International Relations and Area Studies (IIRAS) di Jepang. Di Indonesia, ia turut menggagas dan mengembangkan Pusat Studi Gastrodiplomasi (Centre for Gastrodiplomacy Studies/CGS) Universitas Jember, sebuah inisiatif yang menjembatani diplomasi dengan budaya dan identitas, melalui pangan dan gastronomi, rasa, memori, kekuasaan, soft power, serta citra bangsa.
Pengabdiannya diakui secara institusional. Pada 2019, ia menerima penghargaan sebagai Dosen Berprestasi Bidang Sosial Humaniora Universitas Jember dan menjadi salah satu dari sepuluh finalis Dosen Berprestasi tingkat nasional. Namun ia tidak pernah melihat penghargaan sebagai tujuan akhir. Prestasi, baginya, hanyalah penanda bahwa kerja-kerja akademik harus terus dirawat, bukan dirayakan secara berlebihan.
Kini, ia diberi amanah sebagai Profesor dalam Diplomasi di Program Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Jember. Ia juga aktif di Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) dan Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI), menjaga percakapan akademik tetap hidup, bahkan ketika ruang publik sering kali dipenuhi noise.
Sejak 2024, ia memikul tanggung jawab baru sebagai Rektor Universitas Islam Cordoba (UI Cordoba) di Banyuwangi. Peran ini memperluas medan pengabdiannya, dari ruang kuliah dan jurnal ilmiah ke kepemimpinan institusi. Ia tidak meninggalkan dunia akademik; justru ia membawanya ke tingkat yang lebih strategis.
Bagi Agus Trihartono, menjadi akademisi bukan sekadar profesi. Akademisi adalah komitmen: merawat pengetahuan, membangun jejaring lintas batas, dan terutama menjaga imajinasi tentang Indonesia tetap hidup dan menyala di tengah percaturan dunia yang semakin dinamis.
Sub Judul
Sub Judul
Sub Judul